REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA-- Politisi Partai Persatuan Pembangunan Epyardi Asda tiba-tiba menyatakan diri mundur dari kandidat Ketua Umum PPP dalam pelaksanaan Muktamar VIII PPP di Jakarta, Jumat.
"Saya awalnya mau maju, tapi melihat situasi ini (ada konflik), saya tidak akan maju. Silakan bagi yang bernafsu untuk mengambilnya, saya tidak tega mengambil (posisi ketua umum)," kata Epyardi di sela-sela pelaksanaan Muktamar VIII PPP di Jakarta, Jumat malam.
Dia mengatakan siapapun Ketua Umum PPP yang baru nantinya diharapkan tidak menampilkan ego pribadi atau kelompok. Dia meminta setelah pelaksanaan muktamar, seluruh kubu berselisih bisa duduk bersama-sama.
Menurut Epyardi, sebenarnya pemilihan ketua umum akan lebih baik jika dilakukan setelah islah tercapai. Namun faktanya hal itu sulit terjadi, terlebih kepengurusan PPP versi Muktamar Surabaya sudah disahkan Menteri Hukum dan HAM Yasona Laoly.
Sebelumnya, Epyardi digadang-gadang bakal maju sebagai calon Ketua Umum PPP periode selanjutnya bersama-sama dengan calon lain yakni Djan Faridz, Ahmad Yani, Ahmad Muqoam, dan Rudi Arifin. Saat diwawancarai wartawan Jumat siang pun Epyardi masih berkomentar soal pencalonannya. Dia menyatakan pencalonannya itu sama sekali tidak diliputi ambisi pribadi sedikitpun.
Muktamar VIII PPP di Jakarta berlangsung Kamis (30/10) hingga Sabtu (1/11). Pembukaan muktamar ini dihadiri petinggi partai Koalisi Merah Putih, antara lain Prabowo Subianto, Fadli Zon, Amien Rais, Hatta Rajasa, Zulkifli Hasan, Aburizal Bakrie, Anis Matta, serta Fahri Hamzah.