Senin 10 Sep 2012 14:21 WIB

Teroris, Bak Jamur di Musim Hujan

Ikhwanul Kiram Mashuri
Foto: Republika/Daan
Ikhwanul Kiram Mashuri

REPUBLIKA.CO.ID, oleh: Ikhwanul Kiram Manshuri

Dari manakah asal atau sumber paham terorisme dalam kelompok-kelompok di masyarakat? Densus 88 tak henti-hentinya menggerebek, mengejar, dan menangkap orang- orang yang disangka teroris, namun kelompok ini bak jamur pada musim hujan. Mereka selalu muncul dan muncul lagi.

Persoalan teroris ternyata juga dihadapi banyak negara, termasuk di Mesir yang kini diperintah tokoh Ikhwanul Muslimin yang Islami. Di negara itu kini juga disibukkan dengan masalah teroris. Terakhir segerombolan orang yang menamakan diri kelompok Salafi mem- berondong tentara Mesir di Rafah saat menyiapkan buka puasa. Ada 16 tentara Mesir yang juga Muslim menjadi syahid.

Menurut media Al Ahramedisi 8 Agustus, segerombolan yang membunuh itu menyalahartikan pemahaman soal Salaf. Salaf atau Salafi merupakan pengikut Rasulullah SAW, para sahabat Nabi, dan pengikutnya (tabi'in).

Namun, bagaimana mereka bisa membunuh orang lain, termasuk sesama Muslim, justru dengan dalih membela agama Rasulullah SAW?

Sheikh Al-Azhar Prof Dr Ahmad Thayyib, sebagaimana dikutip Al Ahram, menegaskan, mereka bukanlah penganut Salaf, tapi kelompok berdarah.

Sheikh Muhammad Ghazali (almarhum), seorang dai besar Mesir, menyebut mereka sebagai kelompok jagal. Ciri-cirinya, mereka akan selalu mencari sasaran kurban yang dianggap bertentangan dengan paham mereka.

Kelompok ini, antara lain, selain telah membunuh tentara Mesir di Rafah, juga memotong telinga warga di Provinsi Qina (Mesir) karena dianggap telah melanggar agama.

Mereka juga menghancurkan sejumlah kompleks pemakaman para ulama terpandang di Mesir lantaran dinilai bisa menyebabkan syirik. Ciri-ciri lain dari kelompok ini, mereka tidak akan mengeluarkan fatwa kecuali yang memberatkan umat. Bila seandainya fatwa mempunyai dua wajah kemungkinan antara yang mudah dan yang susah, mereka tanpa ragu akan memilih yang susah. Menurut Sheikh Al-Azhar, Islam itu agama yang mudah dan penuh toleransi. Dengan dua hal inilah Islam berkembang dan bisa diterima banyak bangsa.

Kelompok lain yang juga sering menyalahartikan pengertian Salaf atau Salafi adalah Jamaah Takfir (Jamaah Takfiriyah). Ciri-cirinya, meskipun ajaran Islam didasarkan/berlandaskan pada prasangka baik (husnuzan), namun mereka sering kali mengeluarkan fatwa dan perilaku mereka atas landasan prasangka buruk (suuzan).

Kelompok seperti ini tentu sangat membahayakan kehidupan masyarakat lantaran tidak menyediakan ruang untuk perbedaan dan keberagaman. Siapa pun yang dianggap berbeda mereka akan dicap kafir yang harus dimusuhi.

Mengutip pendapat Sheikh Mutawalli Sya'rawi (alm), dai kondang Mesir, sebagaimana ditulis Al Ahram, Jamaah Takfir bukanlah pengikut Salaf karena pengikut Salafi sangat menghargai perbedaan dan toleransi.

Salafi sebagaimana dianut pengikut Ahlusunnah waljamaah (Aswaja) di Indonesia adalah pengikut Rasulullah, para sahabat, dan pengikut-pengikut setelahnya (tabi'ut tabi'in), termasuk para ulama saleh. Mereka memperbolehkan ijtihad dan bahkan menganggap ijtihad kunci kemajuan umat. Mereka juga tidak menolak bid'ah, dengan syarat bid'ah hasanah yang tidak bertentangan dengan syariat. Ini berbeda dengan kelompok garis keras (musyaddidun).

Menurut yang terakhir ini, semua bid'ah adalah dhalalah alias sesat. Bid'ah adalah apa yang dijalankan umat Islam kini tapi tidak di- lakukan pada masa Rasulullah SAW.  Bagi Salaf Aswaja, Islam agama yang mem- bawa kedamaian buat umat manusia. Islam adalah agama kebaikan (rahmatan lil\'alamin). Islam itu mudah asal jangan dipermudah. Islam agama yang penuh toleransi terhadap perbedaan dan keberagaman. Di sinilah, menurut Sheikh Al-Azhar, letak kekuatan Islam.

Di sinilah urgensi kalau kita ingin "menghabisi" terorisme, termasuk di Indonesia. Densus 88 jelas bisa mengejar dan memenjarakan para teroris. Namun, ketika teror menjadi terorisme, menjadi paham, dan apalagi menjadi keyakinan maka mereka akan susah dihabisi. Mati satu akan tumbuh lainnya.

Pada kondisi seperti ini dibutuhkan peran berbagai pihak, terutama para ulama, untuk memahamkan ajaran Islam yang benar. Ajaran Islam yang membuka ruang perbedaan dan tidak saling mengafirkan orang lain.

sumber : resonansi
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement
Advertisement