Sabtu 16 Mar 2013 11:30 WIB

Belajar Sejarah? Ah Membosankan

Monumen Pancasila Sakti simbol peringatan terhadap pahlawan yang gugur dalam gerakan 30 September 1965
Foto: Alumni Sejarah Unpad
Monumen Pancasila Sakti simbol peringatan terhadap pahlawan yang gugur dalam gerakan 30 September 1965

REPUBLIKA.CO.ID,Oleh: Husni Nilawati S Pd Ing

Dalam pembelajaran mata pelajaran sejarah sering kali peserta didik kita merasa jenuh, ngantuk, membosankan dan masih ada sejuta alasan bagi mereka untuk dapat mengikuti pelajaran dengan baik. Hal ini tentunya menjadi peringatan bagi kita sebagai guru, mengapa anak – anak kita saat ini kurang tertarik dengan pelajaran – pelajaran yang sifatnya sebuah tragedi yang terjadi di masa lalu. Mereka akan lebih condong ke pelajaran yang berbau technologi, seni, dan sains.

Apakah sejarah itu identik dengan hal – hal yang kuno? Sehingga mungkin pembelajaran yang mereka terima pun juga masih kurang Up to Date, ya …. Mungkin masih banyak diantara kita yang menggunakan metode ceramah dalam pembelajaran. Metode ini secara tidak langsung akan membunuh rasa keingintahuan dalam diri anak karena mau tidak mau pembelajaran akan dominasi oleh guru dan siswa hanya sebagai pendengar setia.

Kalau begini bagaimana mereka tidak akan mengantuk, bagaimana proses pembelajaran akan terasa menyenangkan? Inilah tugas kita untuk dapat mengubah fenomena dari belajar sejarah yang menyebalkan menjadi menyenagkan, yang tentunya ketika anak- anak kita sudah merasa enjoy maka ilmu yang akan kita transfer pun akan lebih efektif.

    

Jangan sekali – kali kita melupakan sejarah. Lalu bagaimana anak – anak secara lambat laun akan lupa atau bahkan akan tidak mengenal sama sekali dengan sejarah kalau media yang seharusnya menjadi jembatan bagi mereka menjadi suatu hal yang menyebalkan?

Ya lagi- lagi kelihaian kita dalam mengolah kelas kembali diuji ketika harus dituntut modern, up to date, tapi bukan harus berarti tidak mau belajar dengan hal- hal yang berbau kuno, masa lalu dan hanya tinggal dongeng belaka. 

Mungkin langkah yang dapat kita ambil dengan mendesain proses pembelajaran menjadi lebik menarik, kreatif, dan tentunya tepat sasaran. Yaps, pembelajaran yang menarik,kreatif dan tepat sasaran tentunya untuk meraih semua itu ada banyak proses yang harus kita lalui, mulai dari proses sampai dengan hasil. Dalam hal ini, pembelajaran yang kreatif dalam pembelajaran sejarah.

Begitu banyak metode yang kita kenal namun belum ada metode yang sempurna. Satu hal yang harus kita ingat, bahwa tidak selamanya metode yang terbaru dan terdepan itu pasti menjadi alat yang terbaik dalam pembelajaran. Jadi tak sedikit diantara kita yang terkadang menganggap bahwa metode yang baik itu yang tidak terlepas dari besarnya anggaran finansial. Inilah yang terkadang menjadi senjata ampuh untuk mengelak menggunakan metode yang tepat guna dengan alasan terkerbatasan sarana dan prasarana yang ada. Kita mudah menyerah  dengan memilih mencatat, menerangkan  dengan menggunakan metode ceramah dari tahun ke tahun. Sebenarnya kita bisa mengombinasikan dari berbagai metode dalam sebuah pembelajaran sejarah.

Sebagai contoh kecil, bagaimana kalau dalam pembelajaran sejarah kita ajak sifat imaginatif anak – anak dengan melakukan bermain peran (drama) yang dalam istilah metode pembelajarannya di sebut Role Play. Ketika anak akan memerankan tokoh pahlawan disinilah tugas kita untuk membimbing mereka tidak hanya membayangkan sifat yang arif, bijaksana, tegas tetapi juga harus dapat mempraktekkannya.

Seorang anak yang mendapat peran seorang jenderal misalnya, secara tidak langsung anak tesebut akan memahami sifat – sifat asli jenderal tersebut sebelum mereka mempraktikkannya.  Kita beri keleluasaan terhadap mereka untuk mencari informasi sebanyak – banyaknya dari peran yang mereka dapatkan. Disini kita bisa terapkan metode Inkuiri dengan catatan kita telah memfasilitasi sumber informasi yang mereka perlukan. Dengan hal tersebut kita sudah tak lagi menyuapi anak- anak kita dengan penyampaian tentang seorang tokoh melalui cerita–cerita kita. Tugas kita hanya sebagai fasilitator bagi mereka yang menemui berbagai kendala dalam memahami tokoh tersebut.

Kita ajak anak–anak seolah olah mengalami langsung pada masa itu dengan memerankan tragedi yang terjadi pada saat itu. Jadi sejarah pun saat ini memang tidak hanya kita ketahui, kita catat tanggal kejadian selesai tanpa membekas pelajaran apa yang dapat kita ambil dari sejarah itu sendiri.

    

Penulis adalah Guru SMP Islam Purbolinggo Lampung Timur

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement